SIARAN TV DAKWAH SUNNAH HANG 106 BATAM BEKERJA SAMA DENGAN SARANA SUNNAH TV JAKARTA

Segala puji bagi Allaah yang telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya kepada kita. Dan diantara nikmat-nikmat tersebut ialah dengan diberikannya kita berbagai kemudahan untuk menuntut ilmu. Alhamdulillah project TV HANG106 BATAM bekerjasama dengan Sarana Sunnah TV Jakarta, akan segera di launcing menambah khasanah dakwah islam ilmiah di Indonesia umumnya dan Kota Batam khususnya. Siaran TV Hang 106 Batam insyaa Allah sudah dapat Anda saksikan melalui Internet, yakni melalui streaming Website. Mohon Matikan Streaming Radio, dengan mengklik tombol start/stop.


===========================================================================================================================

PERTANYAAN ONLINE

Jangan ber­putus asa dari sesuatu yang luput darimu

Tuesday, 24 August 2010 09:32

Jangan ber­putus asa dari sesuatu yang luput darimu

Penulis: Muham­mad Abduh Tuasikal

Segala puji bagi Allah, Rabb pem­beri segala nik­mat dan men­takdirkan segala sesuatu dengan penuh hik­mah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muham­mad, keluarga dan sahabatnya.

Di pagi yang ber­bahagia, di bulan penuh ber­kah dan bulan semangat untuk men­tadabburi Al Qur’an, ada sebuah ayat yang patut direnungkan oleh kita ber­sama. Ayat ter­sebut ter­dapat dalam surat Al Hadid, tepat­nya ayat 22–23. Inilah yang seharus­nya kita gali hari demi hari di bulan suci ini. Karena merenungkan Al Qur’an, meyakini dan meng­amal­kan­nya tentu lebih utama daripada sekedar mem­baca dan tidak memahami artinya.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

Tiada suatu ben­cana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sen­diri melainkan telah ter­tulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami men­cip­takan­nya. Sesung­guh­nya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan ber­duka cita ter­hadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan ter­lalu gem­bira ter­hadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang som­bong lagi mem­bang­gakan diri(QS. Al Hadid: 22–23)

The Spirit of Sun­nah:
  • Facebook
  • Google
  • E-mail this story to a friend!
  • TwitThis
Read more: Jangan ber­putus asa dari sesuatu yang luput darimu

Agar Puasa Ber­nilai Ibadah

Sunday, 8 August 2010 04:36

Agar Puasa Ber­nilai Ibadah


Pemateri: Ustadz Abu Ashim. Lc

Ramadhan bulan penuh rah­mat, penuh ampunan, bulan diturunkan kitab suci Alqur’an. Ramadhan, tidaklah Allah Azza wa jalla jadikan ia bulan dimana orang– orang ber­iman wajib ber­puasa di siang harinya, jika bukan karena bulan ter­sebut memiliki keisitimewaan diban­dingkan sebelas bulan lainnya.

Diwajibkan­nya orang– orang ber­iman ber­puasa pada bulan ter­sebut menun­jukan puasa di bulan Ramadhan adalah amalan yang sangat pen­ting dan tidak boleh diting­galkan begitu saja. Semen­tara untuk memulai sebuah amalan ter­lebih lagi amalan pen­ting seperti ber­puasa di bulan suci ramadhan, dibutuhkan ilmu ten­tang apa yang hen­dak diamalkan ter­sebut. Ilmu ter­sebut sangat ber­man­faat agar amalan tadi bisa ber­nilai ibadah di sisiNya.

Karenanya, sebelum memasuki bulan suci ramadhan yang sudah didepan mata, mari kita bekali diri kita dengan ilmu, khusus­nya ilmu yang ber­kaitan dengan amalan puasa di bulan ramadhan. Mudah-mudahan dengan memiliki ilmu ter­sebut, amalan puasa kita nanti bisa ber­nilai ibadah disisiNya.

Defenisi Puasa

Puasa menurut bahasa adalah menahan. Sedangkan menurut syariat puasa ber­arti menahan diri dari maka dan minum, ber­hubungan suami istri, dan semua per­kara yang mem­batalkan puasa mulai dari ter­bit fajar sam­pai ter­benam matahari dengan niat Ibadah kepda Allah.[1]

Menahan makan, minum dan yang lain­nya untuk selain ibadah seperti pengobatan atau karena ikut-ikutan saja tidak bisa dikatan puasa secara sayr‘I dan tidak ber­nilai seba­gai  suatu ibadah dihadapan Allah.

A. Niat Puasa

Niat merupakan dorongan atau keinginan hati seiring dengan ( Futuh ) pem­bukaan dari Allah Azza wa jalla. Ter­kadang ia mudah untuk dicapai, tetapi ter­kadang bisa juga sulit.

Puasa ramadhan wajib diniatkan sebelum ter­bit fajar. Jika telah jelas masuk­nya bulan Ramadhan dengan penglihatan mata atau per­sak­sian atau dengan menyem­pur­nakan bilangan bulan Sya’ban men­jadi tiga puluh hari, maka wajib atas setiap mus­lim yang mukallaf untuk niat puasa di malam harinya, hal ini ber­dasarkan sabda Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallamh.[2]

“Artinya : Barang­siapa yang tidak niat untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.“[3]

Dan sabda beliau  Shollallahu ’alaihi wa sallam :

“ Barang siapa yang tidak niat untuk melakukan puasa pada malam harinya maka tidak ada puasa baginya.”[4]

Niat itu cukup di dalam hati dan tidak ada sun­nah­nya melafazd­kan­nya di lisan, bahkan pada seluruh amalan. Hanya Allah Azza wa jalla  sajalah yang tahu  niat seorang hamba. Karena bisa saja seseorang menam­pakkan amal shalih di hadapan manusia padahal sebenar­nya amal ter­sebut adalah amal yang rusak disebabkan rusak­nya niat, karena Allah Azza wa jalla  maha tahu apa yang ada di hati seseorang.[5]

Kewajiban niat semen­jak malam hari ter­sebut hanya dikhususkan untuk puasa wajib saja, karena Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam per­nah datang ke Aisyah pada selain bulan Ramadhan beliau bersabda :

Artinya :

“Apakah eng­kau punya san­tapan siang ? Maka jika tidak ada aku akan ber­puasa”(HR. Mus­lim : 1154 ) .

B. Waktu Turun­nya Per­in­tah Wajib Puasa.

Allah Azza wa jalla telah mewajibkan puasa ramadhan pada hari senin bulan sya‘ban tahun kedua setelah hijrah kepada ummat Muham­mad Shollallahu ’alaihi wa sallam seba­gaimana dia mewajibkan­nya kepada ummat-ummat ter­dahulu,  [6] Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“  Hai orang-orang yang ber­iman, diwajibkan atas kamu ber­puasa seba­gaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu ber­takwa” ‚(QS.Albaqarah:183 )

C. Kewajiban Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan atas setiap mus­lim yang dewasa, ber­akal, mampu melakukan­nya, tidak sakit dan tidak beper­gian. Hal ter­sebut ber­dasarkan Al-Qur‘an, Sun­nah dan kesepakatan para Ulama. Firman Allah Ta‘ala:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalam­nya diturunkan Al Qur’an seba­gai petun­juk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan meng­enai petun­juk itu dan pem­beda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tem­pat ting­gal­nya) di bulan itu, maka hen­daklah ia ber­puasa pada bulan itu” (QS. Albaqoroh:185)

Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

” بني الإسلام على خمس : منها – صوم رمضان ”

“ Islam dibangun di atas lima per­kara : dian­taranya puasa di bulan ramadhan Ramadhan ( Mut­tafaqun ‘Alihi )

Masih banyak lagi ayat dan Hadits yang menun­jukkan kewajiban puasa Ramadhan ini oleh karena itu sepakat ( Ijma‘) kaum mus­limin ten­tang kewajiban­nya.[7]

D. Syarat-Syarat Wajib Puasa

Syarat-syarat wajibnya puasa atas seorang mus­lim adalah :

1)       Mus­lim, Ber­akal dan Baligh ( dewasa ), seba­gaimana di dalam sabda Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam :

رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلَاْثٍ : مِنْهَا – عَنِ الصَّبِبِّ حَتَّ يَحْتَلِمْ

“ Hukum tidak dapat diber­lakukan atas tiga orang, yaitu dian­taranya: anak kecil sam­pai ia ber­mimpi ( Baligh)”. ( HR.Ahmad: 1330. Abu Daud :4399 )

2)       Mukim, Tidak dalam keadaan beper­gian serta sehat jas­mani tidak sakit.sebagaimana yang akan dirin­cikan dibawah ini.[8]

3)       Suci dari haid dan nifas bagi seorang wanita, seba­gaimana sabda Rasullullah Shollallahu ’alaihi wa sallam :

أَلَيْسَتْ إِذَ حَضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“ Bukan­kah jika wanita meng­alami haid, ia tidak sholat dan dan tidak puasa.”( HR. Al-Bukhari : 304 )

4)       Mukim ( tidak sedang beper­gian )  dan mampu. Untuk rin­cian ten­tang syarat wajibnya puasa ini akan di bahas nanti pada pem­bagian manusia dalam berpuasa.

E. Rukun-Rukun Puasa

1)       Niat. Yaitu dorongan dan keman­tapan hati untuk ber­puasa seba­gai ketaatan atas per­in­tah Allah Azza wa jalla untuk men­dekatkan diri kepadanya. Puasa tanpa niat tidak sah. Seba­gaimana niat tanpa ikh­las tidak diterima, bahkan ikh­las tanpa mutaba‘ah ( meng­ikuti Nabi Shollallahu ’alaihi wa sallam) dalam tata caranya juga tidak diterima.Berdasarkan sabda Nabi :

إِنَّما َ الأَعْمَاْلُ بِالنَّياتِ

“ Sesung­guh­nya seluruh amal per­buatan itu ber­gan­tung pada niat­nya”( HR.Al-Bukhori )

2)       Imsak, yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang mem­batalkan puasa seperti makan, minum dan ber­hubungan suami istri.

3)       Waktu, yaitu waktu puasanya harus di siang hari, yaitu sejak ter­bit fajar sam­pai ter­benam­nya matahari. Jika seseorang ber­puasa pada malam hari dan ber­buka pada siang hari, maka puasanya sama sekali tidak sah. seba­gaimana Firman Allah :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

dan makan minum­lah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sem­pur­nakanlah puasa itu sam­pai (datang) malam ( QS.Al-baqarah: 187)

F. Sunnah-Sunnah Puasa

Dian­tara perkara-perkara yang disun­nahkan dalam puasa adalah :

1)       Menyegerakan ber­buka puasa ketika waktu ber­buka telah tiba pada saat matahari benar-benar telah ter­benam, dan meng­akhiri sahur. Seba­gaimana sabda Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam:

لاَ تَزَاْلُ أُمَّتِيْ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُواْ الفِطْرَ وَأَخَّرُواْ السَّحُوْرَ

“ Ummatku masih dalam kebaikan selama mereka menyegerakan ber­buka puasa dan meng­akhirkan sahur ( HR.Ahmad : 20805. hadits shohih )

Anas Bin Malik Radiallohu anhu juga ber­kata : “Sesung­guh­nya Nabi Shollallahu ’alaihi wa sallam tidak meng­er­jakan shalat maghrib sam­pai beliau ber­buka puasa walaupun hanya dengan seteguk air. ( Riwayat Thabrani dalam Al-Ausath : 8/335 )

2)       Ber­buka puasa dengan kurma matang atau kurma kering atau dengan air. Seba­gaimana juga disun­nahkan ber­buka dengan bilangan gan­jil : Tiga, lima atau tujuh.  Hal  ini seba­gaimana yang dituturkan oleh Anas bin Malik Radiallahu anhu :

“ Rasulullah shollahu alaihi wasallam bebuka puasa dengan kurma yang telah matang sebelum meng­er­jakan shalat maghrib. jika tidak ada, beliau ber­buka dengan kurma kering, jika tidak ada juga, beliau meneguk beberapa tegukan air. ( HR. Tir­mizdi : 696 )

3)       Ber­doa ketika ber­buka puasa, karena Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam ber­doa ketika ber­buka puasa dengan do’a  seba­gai berikut :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وابْتَلَّةَ العُرُوْقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاْءَ اللَّهُ

“Telah hilang dahaga, dan telah basah­lah kerong­kongan, dan tetaplah pahalanya insya Allah ( HR.Abu Daud No: 2357 dan Nasai : 1/66 dan beliau meng­hasan­kan­nya seba­gaimana di katakanUst.Abdul Hakim Bin Amir Abdad Hafihullah ta‘ala )

4)       Sahur, yaitu makan minum pada saat sahur diakhir malam dengan niat puasa, seba­gaimana sabda Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam :

إِنَّ فَصْلَ ماَ بَيْنَ صِيَاْمِنَاْ وَصِيَامِ أَهَلِ الْكِتَابِ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ

“ Sesung­guh­nya pem­beda antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” ( HR. Mus­lim: 1096 )

تَسَحَّرُواْ ، فَإِنَّ فِيْ السَّحُوْرِ بَرَكَةً

“Makan sahur­lah kalian, sesung­guh­nya di dalam sahur itu ter­dapat ber­kah ( Mut­tafaqun Alaihi)

G. Perkara-Perkara yang Mem­batalkan Puasa

1)       Mun­tah dengan sengaja. Sabda Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam :

مَنِِ اسْتَقَاءَ عَمْداً فاليَقْضِ

“ Barang siapa yang mun­tah dengan sengaja, maka ia harus meng­ganti puasanya.” ( HR.At-Tirmizdi : 720 )

Adapun orang mun­tah tanpa disengaja dan tak mampu menahan­nya maka hal itu tidak mem­batalkan puasanya.

2)       Makan, minum atau ber­hubungan suami istri mes­kipun dalam keadaan ter­paksa ketika melakukannya.

3)       Keluar­nya darah haidh dan nifas.

4)       Orang yang makan dan minum karena men­duga bahwa hari telah malam, tetapi kemudian nyata baginya bahwa hari masih siang.

5)       Gila.

6)       Mur­tad ( keluar dari Islam ) walaupun ia kem­bali masuk Islam. Firman Allah Azza wa jalla berfirman :

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mem­per­sekutukan (Tuhan), niscaya akan hapus­lah amalmu dan ten­tulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi.( QS.Azzumar: 65 )

7)       Sesuatu yang masuk kedalam tubuh karena berlebih-lebihan dalam ber­kumur dan meng­hirup air ketika ber­wudhu dan lainya.

8)       Keluar­nya air mani karena melihat wanita secara terus-menerus, selalu memikir­kan­nya, men­cium atau ber­hubungan suami istri atau onani. Adapun keluar­nya mani karena mimpi tidak mem­batalkan puasa.[9]

Semua per­kara yang disebutkan diatas adalah perkara-perkara yang mem­batalkan puasa dan mewajibkan orang yang melakukan­nya untuk meng­ganti puasanya yang batal.Tapi tidak ada kaffarat ( denda ) atas­nya kecuali dua poin yaitu ber­hubungan suami istri dan makan dan minum dengan sengaja tanpa alasan syar‘i menurut sebagian pen­dapat para Ulama. Rin­cian­nya seba­gai berikut:

H. Ada Dua Hal Yang Mewajibkan Kaffarat

1) Ber­hubungan suami istri dengan sengaja. Maka kaffarat­nya adalah memerdekakan seorang budak yang ber­iman. Jika tidak mampu maka ber­puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu juga, diganti dengan mem­beri makan enam puluh orang mis­kin, setiap orang mis­kin diberi satu Mud ( 544 gr ) makanan pokok setem­pat,  sesuai dengan hadits : seseorang yang datang kepada Nabi Shollallahu ’alaihi wa sallam lalu ia berkata:

wahai Rasulullah, aku telah binasa,” Rasulullah ber­tanya : “apa yang mem­binasakanmu?” Orang itu men­jawab : “Aku telah meng­gauli istriku pada bulan Ramadhan,” Beliau ber­tanya: “Apakah kamu mem­punyai harta yang setara untuk memerdekakan budak?:…  hadist ini diriwayatka Imam Bukhori : 1936. dan Mus­lim : 1111.

Gugur­nya kafarat, barang siapa yang telah wajib mem­bayar kafarat namun tidak mampu mem­bebaskan seorang budak ataupun ber­puasa (dua bulan berturut-turut) dan juga tidak mampu mem­beri makan (enam puluh orang mis­kin), maka gugur­lah kewajiban­nya mem­bayar kafarat, karena tidak ada beban syariat kecuali kalau ada kemampuan.Firman Allah:

“Artinya : Allah tidak mem­bebani jiwa kecuali sesuai kemam­puan” (QS.Albaqarah:286 )

Dan dengan dalil Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam yang meng­gugurkan kafarat ketika meng­abarkan kesulitan­nya dan mem­berinya satu wadah korma untuk mem­berikan keluar­ganya. Kafarat hanya bagi laki-laki, seorang wanita tidak ter­kena kewajiban mem­bayar kafarat karena ketika dikabarkan kepada Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam per­buatan yang ter­jadi antara laki-laki dan per­em­puan, beliau hanya mewajibkan satu kafarat saja.[10]

2)       Makan dan minum dengan sengaja tanpa uzdur yang dibolehkan. Ini merupakan pen­dapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik Rahimahumallah.

I. Perkara-Perkara Yang Diper­bolehkan Bagi Orang Yang Berpuasa

1)       Memasuki Waktu Subuh Dalam Keadaan Junub

Dari Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anhuma :” Sesung­guh­nya Nabi Shollallahu ’alaihi wa sallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, kemudian ia mandi dan ber­puasa” (HR.Bukhori 4/123. Mulim: 1109)

2)       Ber­siwak.

Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam ber­sabda Artinya : “Sean­dainya tidak mem­beratkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk ber­siwak setiap kali wudlu” (HR.Bukhori : 2/311. Mus­lim :252 )

Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam tidak meng­khususkan ber­siwak untuk orang yang puasa ataupun yang lain­nya, hal ini seba­gai dalil bahwa ber­siwak itu diperun­tukkan bagi orang yang puasa dan selain­nya ketika wudlu dan shalat. [Inilah pen­dapat Bukhari Rahimahullah, demikian pula Ibnu Khuzaimah dan selain keduanya. Demikian pula hal ini umum di seluruh waktu sebelum zawal (ter­gelin­cir matahari) atau setelahnya.(Fathul Bari 4/158 )

3)       Ber­kumur dan Istin­syaq ( Memasukkan air kedalam Hidung ). Tetapi dilarang orang yang ber­puasa ber­lebihan ketika ber­is­tin­syaq. Sabda Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam :

“: … Bersungguh-sungguhlah dalam ber­is­tin­syaq kecuali dalam keadaan puasa” (Hadits Riwayat Tir­midzi 3/146, Abu Daud 2/308)

4)       Ber­cengk­rama dan Men­cium Istri Jika Mampu Meng­en­dalikan Nafsunya.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha per­nah berkata :

” Adalah Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam per­nah men­cium dalam keadaan ber­puasa dan ber­cengk­rama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri”(HR.Bukhori:4/131)

Dan hadts beliau Shollallahu ’alaihi wa sallam : Kami per­nah ber­ada di sisi Nabi Shollallahu ’alaihi wa sallam, datanglah seorang pemuda seraya ber­kata, “Ya Rasulullah, boleh­kah aku men­cium dalam keadaan puasa ?” Beliau men­jawab, “Tidak”. Datang pula seorang yang sudah tua dan dia ber­kata : “Ya Rasulullah, boleh­kah aku men­cium dalam keadaan puasa ?”. Beliau men­jawb : “Ya” sebagian kami meman­dang kepada teman-temannya, maka Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam ber­sabda : “Sesung­guh­nya orang tua itu (lebih bisa) menahan dirinya”.( HR. Ahmad 2/185,221)

5)       Men­cicipi Makanan

Hal ini dibatasi selama tidak sam­pai di teng­gorokan ber­dasarkan riwayat   Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma :

Artinya : Tidak meng­apa men­cicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaan puasa selama tidak sam­pai ke teng­gorokan” [Hadits Riwayat Bukhari secara mu’allaq 4/154-Fath, dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah 3/47,

6)       Ber­celak, Memakai Tetes Mata dan Lainya Yang Masuk Kemata. Benda-benda ini tidak mem­batalkan puasa, baik rasanya yang dirasakan di teng­gorokan atau tidak. Inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalah­nya yang ber­man­faat dengan judul Haqiqatus Shiyam serta murid beliau yaitu Ibnul Qayim dalam kitabnya Zadul Ma’ad, Imam bukhari ber­kata dalam shahhihnya[4] : “Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakha’i meman­dang, tidak meng­apa bagi yang berpuasa”.

7)       Meng­guyurkan Air Ke atas Kepala dan Mandi.

Bukhari menyatakan dalam kitab Shahih­nya : Bab Man­dinya Orang Yang Puasa, Umar mem­basahi bajunya kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa. As-Sya’bi masuk kamar mandi dalam keadaan puasa. Al-Hasan ber­kata : “Tidak meng­apa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa”. Rasulullah Shollallahu ’alaihi wa sallam meng­guyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa karena haus atau kepanasan (Ahmad 5/376,380,408,430 sanad­nya shahih )

J. Pem­bagian Manusia Dalam Ber­puasa dan Hukumnya

1)       Musafir

Jika seorang mus­lim melakukan per­jalanan sejauh jarak yang mem­per­per­boleh­kan­nya meng­qasar shalat­nya, maka diper­bolehkan baginya untuk tidak ber­puasa dengan syarat meng­qodhonya ( meng­gan­tinya) ketika ia kem­bali ketem­pat asal­nya. Firman Allah :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam per­jalanan (lalu ia ber­buka), maka (wajiblah baginya ber­puasa) sebanyak hari yang diting­galkan itu pada hari-hari yang lain. ( QS.Albaqarah: 184 )

Jika puasa tidak menyulitkan bagi musafir selama melakukan per­jalan­nya, maka ber­puasa lebih baik baginya, tetapi jika per­jalanan itu menyulit­kan­nya, maka ber­buka adalah lebih baik baginya. [11]

2)       Orang Sakit Yang Diharapkan Kesem­buhan­nya. Jika berat baginya untuk ber­puasa dia boleh ber­buka dan meng­gan­tinya ( Qadha ) setelah sem­buh. Tapi jika penyakit­nya tidak dapat diharapkan kesem­buhanya, maka boleh baginya ber­buka dan mem­beri makan si mis­kin dengan dua cara :

  1. dibuatkan makanan untuk pagi atau petang hari lalu diun­dang­nya seorang mis­kin selama hari-hari puasa ter­sebut seba­gaimana yang per­nah dilakukan oleh Anas bin Malik pada usia tuannya
  2. atau mem­beri makanan satu mud gan­dum atau beras yakni sekitar 1/2 kg lebih 10 gram ter­masuk dengan lauk pauk­nya.= ( 510 gr. )[12]

3)       Orang yang lan­jut usia boleh baginya ber­buka dan mem­beri makan seba­gai sedekah 1 sho‘ juga : 510 gr kepada seorang mis­kin, dan tidak perlu qodho, seba­gaimana di tuturkan Ibnu Abbas Radiallohu anhu ( Diriwayatkan Al-Hakim: 1/606 dan beliau menshohihkannya)

4)       Wanita hamil tak luput dari kedua hal ;

  1. wanita yang segar dan kuat ber­puasa sehingga tak akan meng­ganggu dirinya dan kan­dungan­nya. Maka ia wajib berpuasa.
  2. wanita hamil yang tak sang­gup ber­puasa karena kan­dungan­nya atau lemah fisik­nya. Maka sebaik­nya tak ber­puasa apalagi sam­pai memudaratkan bayinya. Namun meng­gan­tinya di hari lain, ini pen­dapat sebagian Ulama seperti Imam Syafi‘I,  syekh Utsaimin, syekh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.[13] Tapi sebagian Ulama meng­atakan cukup hanya dengan Fidyah ( beri makan ) satu orang mis­kin setiap hari yang diting­galkan tanpa di qodho, dan yang paling Rajih insya Allah ialah pen­dapat kedua seba­gaimana dirojihkan oleh dua Sahabat Nabi yaitu Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radiallohu anhuma.[14] Hal ini ber­laku juga bagi wanita yang menyusui. [15]

Dari Ikrimah Radiallohu anhu bahwa Ibnu Abbas ber­kata kepada Ummu Walad­nya yang sedang hamil : “ Eng­kau sama seperti orang yang tidak mampu puasa, maka wajib bagimu Fidyah saja tanpa diganti ( dishohihkan oleh Addaru Quthni)

Demikianlah pem­bahasan sing­kat ini. Semoga dengan meng­etahui hukum– hukum yang ter­kait dengan puasa dan hal– hal ter­kait lain­nya dengan puasa, kita kaum mus­limin juga bisa mening­katkan kualitas ibadah puasa kita di bulan Ramadhan yang sudah di depan mata ini.

Waalahu ta‘ala a ‘ala wa  a‘alam .

Sum­ber: Majalah As-Saliim Edisi 1 Agus­tus 2008


[1] Fiqih Sun­nah, Sayyid Sabiq 1/365

[2] Hadyun Muham­madin fi Ibadatihi wamua‘malaatihi waakh­lakihi, Imam Ibnul Qoyyim hal: 35.

[3] ( HR. Abu Dawud 2454, Ibnu Majah 1933, )

[4] (HR. An-Nasa’i 4/196, Al-Baihaqi 4/202 )

[5] Syarh riyadus shalihin, Syehk Utsaimin 1/27. ,  Kifayatul akhyar fi hilli goyatil ikhtishar, Imam Taqiyuddin Abi Bakar Al-Husaini Hal:242

[6] Pedoman hidup seorang Mus­lim ‚Syekh Abu Bakar Jabir Aljazairi Hal: 450.

[7] Bidayatul Mujtahid waniatul  Muqtashid, Imam Muham­mad Bin Ahmad Rusd 1/283.

[8] Bidayatul Mujtahid, 1/284.

[9] Kifatul Akhyar , Hal : 244.

[10] Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‚Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, ter­bitan Pus­taka Al-Haura, pener­jemah Abdur­rahman Mubarak Ata. Lihat juga kiatab Kifayatul Akhyar hal : 248.

[11] Muhadhroh Ust.Abdul Hakim Bin Amir Abdat Hafihullah di batam pada tgl 25 Sya‘ban 1428 H.. Pedoman hidup seorang Mus­lim, Syekh Abu baker jabir Al-Jazairi hal: 463.

[12] Fatwa-fatwa Al-Utsaimin, karya Syaikh Muham­mad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 194–196

[13] Al-Um, Imam Muham­mad Bin Idris Asy-Syafi‘I hal : 114 dan lihat Fatwa-Fatwa Al-Utsaimin, karya Syaikh Muham­mad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 191–194

[14] ( Atsar , Riwayat Abu Daud dan Al-Bazzar dari Ikrimah radiallahu anhu ) liaht kitab Fiqh Sun­nah Sayyid Sabiq372

[15] Kajian Ust.Abd.Hakim Bin Amir Abdat Hafihullah dibatam 25 Sya‘ban 1428 H.

The Spirit of Sun­nah:
  • Facebook
  • Google
  • E-mail this story to a friend!
  • TwitThis

Bis­nis Unit Hang Fm — Lelang Radio 3 Seri

Monday, 26 July 2010 03:43

Bis­nis Unit Hang Fm — Lelang Radio 3 Seri

Assalamu’alaikum warah matullahi wabarakatuhu

Alhamdulillah, washolatu wassalaamu’ala Rasulillah, wa a’la alihi waashabihi wa mantabi’ahum bil ikhsan illa yaumiddin

Bis nis unit Hang FM akan melelang beberapa Radio Kuno yang masih meng gunakan Vacuum Tube (tabung) dgn suara yang empuk dan hangat yang tidak bisa ditan dingi oleh radio transistor.

Untuk info spek sifikasinya antum bisa meng ikuti link dibawah ini:

  1. Radio Jadul Seri 1 (SABA FREUDENSTADT 15M STEREO)
  2. Radio Jadul Seri 2 (TELEFUNKEN GAVOTTE 8U)
  3. Radio Jadul Seri 3 (PHILIPS B5X44A REAL FM STEREO)

Bagi sahabat hang yang ingin menawar radio ter sebut, bisa meng­irimkan sms dengan format

RADIO <SPASI> NAMA <SPASI> SERI RADIO <SPASI> HARGA BELI

Kirim ke SMS online Hang Fm: 0856 684 10106

Con toh: RADIO FULAN SERI 3 Rp.7.000.000,00 Kirim ke 0856 684 1010

3 penawar ter­tinggi akan dihubungi utk kon­fir­masi harga terakhir.

Radio bisa dilihat di kan­tor Hang FM jam 08.00–17.00

Wassalamu’alaikum warah matullahi wabarakatuhu

Bis nis Unit  Hang FM

The Spirit of Sun­nah:
  • Facebook
  • Google
  • E-mail this story to a friend!
  • TwitThis

Tweeter Hangfm Batam

  • Anda sdg mendgrkan SERUMPUN RAMADHAN...bersama Ust Adil,Lc dipandu Abu Umar & Abu Farid...Only on Hang 106 FM 5 days ago
  • Antum Tengam Mendengarkan Kajian 06.00 Pagi Ini Bersama Ust Idris Dwngan Tema''Akhlaq Seorang Muslim Kepada Masyarakat'' 6 days ago
  • Ikuti & Simak Selalu : SERUMPUN RAMADHAN senin - Kamis selama Ramadhan Pkl 13.00 - 14.30,bersama Ust Adil,Lc dipandu Abu Umar & Abu Farid 6 days ago
  • More updates...

Posting tweet...

Powered by Twitter Tools

STREAMING


http://live.hang106.com
http://Kajian.net



http://www.hang106.or.id:106

Untuk Memasang Radiobox diwebsite “Klik kanan di area script, select all, copy dan kemudian paste di widget/sidebar blog anda.”

PENDENGAR ONLINE

RADIO HANGFM BATAM

Already a member?
Login
Login using Facebook:
Last visitors
Powered by Sociable!

BANNER IKLAN

Program Ung­gulan

Lowongan kerja